9 Cara Membaca Orang Licik Tanpa Mereka Sadar

Mopintar
Share Link

ID: 206
Kategori:
Tanggal: 2025-12-03
Dibuat oleh: Administrator MOPINTAR
Jenis Posting : Artikel
Penulis : Mugi Subagyo


Pernah nggak, ngobrol sama seseorang yang katanya “baik banget”, tapi setelah pulang, kamu malah kepikiran:

“Kenapa ya rasanya kayak dimainin?”

Orang licik itu seperti pesulap: mereka menyembunyikan maksud di balik pujian, logika rapi, dan senyum manis, tapi permainannya bikin kamu kehilangan arah tanpa sadar.

 Nah, kabar baiknya: kamu nggak perlu jadi jenius buat mengenali mereka.

Menurut riset dari University of Cambridge, kemampuan membaca ekspresi mikro dan bahasa tubuh bisa meningkatkan akurasi kita dalam menangkap niat tersembunyi hingga 75%. Artinya, kamu cuma perlu jadi pengamat yang lebih peka.

Contohnya gini: di rapat tim, ada rekan yang selalu bilang,

“Ide kamu keren banget!”

Tapi pas giliran kamu berbicara, komentarnya tiba-tiba ambigu, ide kamu “dilipat” diam-diam, dan suasana jadi canggung.

Tanpa sadar, kamu udah masuk permainan psikologis mereka.

Tapi tenang, kamu nggak perlu marah, menuduh, atau menarik diri. Cukup pahami sinyal halusnya, lalu respons dengan tenang. Biar mereka yang kehabisan “akting”, bukan kamu yang kehilangan kendali.

Berikut 9 cara membaca orang licik, tanpa kelihatan kayak sedang curiga:

 1. Bahasa Tubuh Itu Jujur, Mulut Bisa Bohong

Kata-kata bisa dikarang. Tapi tubuh? Jarang bohong.

Perhatikan:

  • Tatapan yang menghindar pas ngomong hal penting
  • Tangan gelisah, atau justru terlalu diam
  • Nada suara yang tiba-tiba berubah, lebih tinggi, lebih cepat, atau malah terlalu datar

Contoh simpel: temanmu ditanya hal biasa, tapi dia mengangkat alis, diam 2 detik, baru jawab.

Itu bukan jeda biasa, itu jeda “cari versi cerita yang aman”.

2. Cari Celah di Antara Kata-Katanya

Orang licik pandai berargumen—tapi sering lupa konsistensi.

Mereka bilang:

“Aku dukung 100%!”

Tapi pas rapat:

“Tapi apa iya ini nggak terlalu berisiko?”

“Kayaknya kita perlu pertimbangkan lagi…”


Kalau dukung beneran, nggak mungkin selalu ada “tapi” yang ngerem semangat.

Konsistensi = jujur. Inkonsistensi = ada agenda lain.

3. Tanya dengan Tenang—Biarkan Mereka Bocor Sendiri

Jangan debat. Cukup tanya terbuka:

“Apa yang bikin kamu yakin ini langkah terbaik?”

“Kenapa menurutmu ini ide bagus?”

Orang jujur akan kasih penjelasan nyata.

Orang licik? Akan jawab dengan:

Kalimat kosong (“Karena ini demi tim”)

Humor mengalihkan (“Kok serius banget sih?”)

Atau malah balik tanya (“Emang kenapa? Gak percaya?”)

Pertanyaan terbuka itu seperti cermin, yang kosong cuma bisa memantulkan kekosongan.

4. Waspada Saat Mereka Tiba-Tiba “Drama”

Pernah cuma minta bukti, eh langsung dimarahin:

“Apa sih? Kok kayak nggak percaya aku?!”

Padahal kamu cuma minta data.

Ini trik lama: pakai emosi buat ngeles dari fakta.

Mereka tahu logikanya rapuh—jadi pilih bikin kamu merasa bersalah, bukan menjawab pertanyaan.

Kalau ini terjadi, jangan ikut emosi. Cukup bilang:

“Tenang aja, aku cuma pengen pastikan kita sama-sama di jalan yang benar.”

Dijamin, drama mereka langsung kempes.

5. Catat Polanya, Bukan Cuma Kejadiannya

Orang licik jarang improvisasi. Mereka punya ritual yang berulang:

Pujian dulu, baru “tapi…”

Ubah topik pas diminta klarifikasi

Pakai lelucon buat ngeledek tanpa kelihatan jahat

Kalau kamu bisa kenali polanya, kamu bisa siapkan respons bahkan sebelum mereka bicara.

6. Percaya Insting—Tapi Jangan Langsung Bertindak

Pernah ngerasa: “Ada yang aneh… tapi nggak tahu apa?”

Jangan abaikan. Intuisi itu data bawah sadar yang belum jadi kata.

Tapi jangan juga langsung menuduh.

Cukup:

Catat perasaanmu

Cari bukti pendukung

Lalu lihat—apakah instingmu benar?

Contohnya: kamu ngerasa laporan itu “nggak nyambung”, lalu cek datanya—eh, ternyata ada angka yang dipalsukan.

Intuisi + fakta = kekuatan tak terkalahkan.

7. Perhatikan Siapa yang Mereka Perlakukan dengan “Berbeda”

Orang licik sering pandai berakting di depan umum—tapi konsistensi sikap terhadap orang berbeda bisa jadi petunjuk besar.

Mereka sangat ramah ke atasan, tapi suka mengolok-olok staf junior.

Manis ke klien, tapi kasar ke driver atau office boy.

Sopan di rapat, tapi suka nyebar gosip pas ngopi berdua.

Kenapa ini penting?

Karena cara seseorang memperlakukan orang yang “tak punya kuasa atas mereka” jauh lebih jujur daripada cara mereka memperlakukan orang yang bisa memberi keuntungan.

Amati bagaimana mereka bicara tentang orang yang nggak ada di ruangan itu.

Jika nada bicaranya penuh penghinaan, ironi, atau “lelucon” yang menyakitkan—itu cermin asli kepribadiannya.

8. Dengarkan “Apa yang Sengaja Tidak Mereka Katakan”

Orang licik tidak hanya memanipulasi lewat apa yang dikatakan—tapi juga lewat apa yang sengaja disembunyikan.

Misalnya:

Saat presentasi proyek, mereka selalu bahas “hasil luar biasa”, tapi nggak pernah sebut siapa yang ngerjain.

Saat ada konflik, mereka bilang: “Aku cuma ingin yang terbaik buat tim”, tapi nggak pernah akui kesalahan atau ambil tanggung jawab.

Saat kamu minta klarifikasi, mereka jawab panjang lebar… tapi menghindari inti pertanyaanmu.

Ini disebut “omission bias”, strategi manipulasi dengan menyembunyikan fakta kunci agar kesan yang muncul tetap positif, padahal tidak utuh.

Setelah mereka bicara, tanyakan dalam hati:

“Apa yang seharusnya dikatakan, tapi justru dihindari?”

Jawaban atas pertanyaan itu sering kali lebih penting daripada apa yang mereka ucapkan.

9. Uji dengan “Ketidaksiapan”, Bukan dengan Konfrontasi

Orang licik sangat pandai saat mereka siap berakting. Tapi mereka kesulitan saat dihadapkan pada situasi tak terduga yang memaksa respons spontan.

Cara mengujinya?

Gunakan respons tak terduga yang tetap sopan, tapi mengganggu skrip mereka.

Contoh:

Mereka bilang: “Kamu tuh emang paling bisa diandalkan!” (mungkin buat manipulasi beban kerja).

Jangan langsung setuju atau menolak.

Jawab dengan tenang: “Wah, makasih. Tapi aku penasaran, apa yang bikin kamu bilang gitu?”

Atau:

Mereka nyebar isu samar: “Katanya sih proyek ini agak bermasalah…”

Jangan buru-buru membela.

Tanya: “Siapa yang bilang? Dan masalahnya di bagian mana?”

Orang jujur akan bisa jawab dengan tenang.

Orang licik? Akan gelagapan, mengalihkan topik, atau malah menyerang balik, karena skrip mereka rusak.

Intinya:

Jangan uji kejujuran dengan menuduh.

Uji dengan mempaksa mereka keluar dari zona nyaman aktingnya, tanpa kehilangan sikapmu yang tenang dan profesional.

Penutup:

Membaca orang licik bukan soal jadi sinis atau curiga terus-menerus.

Tapi soal melatih kepekaan, memahami pola, dan tetap menjaga batas dengan elegan.

Karena pada akhirnya, orang licik paling takut pada satu hal:

Orang yang tenang, jelas, dan nggak gampang dimainin.


Kalau kamu bisa jadi itu, tanpa perlu jadi “licik” balik, maka kamu sudah menang.

Semoga tulisan ini membantumu lebih waspada, tapi tetap membawa hati yang terbuka




Form Komentar

Address

Head Office: Jln. Taman Kencana III Blok P3 No. 11A, Jaka Setia, Bekasi

Marketing Office : Jln. Arabika III Blok AB2 No.1 Pondok Kopi, Jakarta Timur.

Phone & Email

Email: info@mopintar.co.id

Phone: 081290593242

Copyright © 2020 MOPINTAR. All Rights Reserved