Pernah nggak, ngobrol sama seseorang yang katanya “baik banget”, tapi setelah pulang, kamu malah kepikiran:
“Kenapa
ya rasanya kayak dimainin?”
Orang licik itu seperti pesulap: mereka menyembunyikan maksud di balik pujian, logika rapi, dan senyum manis, tapi permainannya bikin kamu kehilangan arah tanpa sadar.
Nah, kabar baiknya: kamu nggak perlu jadi jenius buat mengenali mereka.
Menurut
riset dari University of Cambridge, kemampuan membaca ekspresi mikro dan bahasa
tubuh bisa meningkatkan akurasi kita dalam menangkap niat tersembunyi hingga
75%. Artinya, kamu cuma perlu jadi pengamat yang lebih peka.
Contohnya gini: di rapat tim, ada rekan yang selalu bilang,
“Ide
kamu keren banget!”
Tapi
pas giliran kamu berbicara, komentarnya tiba-tiba ambigu, ide kamu “dilipat”
diam-diam, dan suasana jadi canggung.
Tanpa sadar, kamu udah masuk permainan psikologis mereka.
Tapi
tenang, kamu nggak perlu marah, menuduh, atau menarik diri. Cukup pahami sinyal
halusnya, lalu respons dengan tenang. Biar mereka yang kehabisan “akting”,
bukan kamu yang kehilangan kendali.
Berikut 9 cara membaca orang licik, tanpa kelihatan kayak sedang curiga:
1. Bahasa Tubuh Itu Jujur, Mulut Bisa Bohong
Kata-kata
bisa dikarang. Tapi tubuh? Jarang bohong.
Perhatikan:
Contoh
simpel: temanmu ditanya hal biasa, tapi dia mengangkat alis, diam 2 detik, baru
jawab.
Itu
bukan jeda biasa, itu jeda “cari versi cerita yang aman”.
2. Cari Celah di Antara Kata-Katanya
Orang
licik pandai berargumen—tapi sering lupa konsistensi.
Mereka
bilang:
“Aku dukung 100%!”
Tapi
pas rapat:
“Tapi
apa iya ini nggak terlalu berisiko?”
“Kayaknya kita perlu pertimbangkan lagi…”
Kalau dukung beneran, nggak mungkin selalu ada “tapi” yang ngerem semangat.
Konsistensi
= jujur. Inkonsistensi = ada agenda lain.
3. Tanya dengan Tenang—Biarkan Mereka Bocor Sendiri
Jangan
debat. Cukup tanya terbuka:
“Apa yang bikin kamu yakin ini langkah terbaik?”
“Kenapa
menurutmu ini ide bagus?”
Orang jujur akan kasih penjelasan nyata.
Orang
licik? Akan jawab dengan:
Kalimat kosong (“Karena ini demi tim”)
Humor
mengalihkan (“Kok serius banget sih?”)
Atau
malah balik tanya (“Emang kenapa? Gak percaya?”)
Pertanyaan
terbuka itu seperti cermin, yang kosong cuma bisa memantulkan kekosongan.
4. Waspada Saat Mereka Tiba-Tiba “Drama”
Pernah
cuma minta bukti, eh langsung dimarahin:
“Apa sih? Kok kayak nggak percaya aku?!”
Padahal kamu cuma minta data.
Ini trik lama: pakai emosi buat ngeles dari fakta.
Mereka
tahu logikanya rapuh—jadi pilih bikin kamu merasa bersalah, bukan menjawab
pertanyaan.
Kalau ini terjadi, jangan ikut emosi. Cukup bilang:
“Tenang aja, aku cuma pengen pastikan kita sama-sama di jalan yang benar.”
Dijamin,
drama mereka langsung kempes.
5. Catat Polanya, Bukan Cuma Kejadiannya
Orang
licik jarang improvisasi. Mereka punya ritual yang berulang:
Pujian dulu, baru “tapi…”
Ubah
topik pas diminta klarifikasi
Pakai
lelucon buat ngeledek tanpa kelihatan jahat
Kalau
kamu bisa kenali polanya, kamu bisa siapkan respons bahkan sebelum mereka
bicara.
6. Percaya Insting—Tapi Jangan Langsung Bertindak
Pernah
ngerasa: “Ada yang aneh… tapi nggak tahu apa?”
Jangan
abaikan. Intuisi itu data bawah sadar yang belum jadi kata.
Tapi jangan juga langsung menuduh.
Cukup:
Catat perasaanmu
Cari
bukti pendukung
Lalu
lihat—apakah instingmu benar?
Contohnya:
kamu ngerasa laporan itu “nggak nyambung”, lalu cek datanya—eh, ternyata ada
angka yang dipalsukan.
Intuisi
+ fakta = kekuatan tak terkalahkan.
7. Perhatikan Siapa yang Mereka Perlakukan dengan “Berbeda”
Orang
licik sering pandai berakting di depan umum—tapi konsistensi sikap terhadap
orang berbeda bisa jadi petunjuk besar.
Mereka sangat ramah ke atasan, tapi suka mengolok-olok staf junior.
Manis
ke klien, tapi kasar ke driver atau office boy.
Sopan
di rapat, tapi suka nyebar gosip pas ngopi berdua.
Kenapa ini penting?
Karena
cara seseorang memperlakukan orang yang “tak punya kuasa atas mereka” jauh
lebih jujur daripada cara mereka memperlakukan orang yang bisa memberi
keuntungan.
Amati bagaimana mereka bicara tentang orang yang nggak ada di ruangan itu.
Jika
nada bicaranya penuh penghinaan, ironi, atau “lelucon” yang menyakitkan—itu
cermin asli kepribadiannya.
8. Dengarkan “Apa yang Sengaja Tidak Mereka Katakan”
Orang
licik tidak hanya memanipulasi lewat apa yang dikatakan—tapi juga lewat apa
yang sengaja disembunyikan.
Misalnya:
Saat presentasi proyek, mereka selalu bahas “hasil luar biasa”, tapi nggak pernah sebut siapa yang ngerjain.
Saat
ada konflik, mereka bilang: “Aku cuma ingin yang terbaik buat tim”, tapi nggak
pernah akui kesalahan atau ambil tanggung jawab.
Saat
kamu minta klarifikasi, mereka jawab panjang lebar… tapi menghindari inti
pertanyaanmu.
Ini
disebut “omission bias”, strategi manipulasi dengan menyembunyikan fakta kunci
agar kesan yang muncul tetap positif, padahal tidak utuh.
Setelah mereka bicara, tanyakan dalam hati:
“Apa
yang seharusnya dikatakan, tapi justru dihindari?”
Jawaban
atas pertanyaan itu sering kali lebih penting daripada apa yang mereka ucapkan.
9. Uji dengan “Ketidaksiapan”, Bukan dengan Konfrontasi
Orang
licik sangat pandai saat mereka siap berakting. Tapi mereka kesulitan saat
dihadapkan pada situasi tak terduga yang memaksa respons spontan.
Cara mengujinya?
Gunakan
respons tak terduga yang tetap sopan, tapi mengganggu skrip mereka.
Contoh:
Mereka bilang: “Kamu tuh emang paling bisa diandalkan!” (mungkin buat manipulasi beban kerja).
Jangan
langsung setuju atau menolak.
Jawab
dengan tenang: “Wah, makasih. Tapi aku penasaran, apa yang bikin kamu bilang
gitu?”
Atau:
Mereka nyebar isu samar: “Katanya sih proyek ini agak bermasalah…”
Jangan
buru-buru membela.
Tanya:
“Siapa yang bilang? Dan masalahnya di bagian mana?”
Orang
jujur akan bisa jawab dengan tenang.
Orang
licik? Akan gelagapan, mengalihkan topik, atau malah menyerang balik, karena
skrip mereka rusak.
Intinya:
Jangan
uji kejujuran dengan menuduh.
Uji
dengan mempaksa mereka keluar dari zona nyaman aktingnya, tanpa kehilangan sikapmu
yang tenang dan profesional.
Penutup:
Membaca
orang licik bukan soal jadi sinis atau curiga terus-menerus.
Tapi
soal melatih kepekaan, memahami pola, dan tetap menjaga batas dengan elegan.
Karena pada akhirnya, orang licik paling takut pada satu hal:
Orang
yang tenang, jelas, dan nggak gampang dimainin.
Kalau kamu bisa jadi itu, tanpa perlu jadi “licik” balik, maka kamu sudah menang.
Semoga
tulisan ini membantumu lebih waspada, tapi tetap membawa hati yang terbuka
Head Office: Jln. Taman Kencana III Blok P3 No. 11A, Jaka Setia, Bekasi
Marketing Office : Jln. Arabika III Blok AB2 No.1 Pondok Kopi, Jakarta Timur.
Email: info@mopintar.co.id
Phone: 081290593242
Copyright © 2020 MOPINTAR. All Rights Reserved
Form Komentar