Pernah nggak sih, kamu ngomong sesuatu yang menurutmu biasa aja …
tapi respons orangnya langsung beda?
Ada yang:
“Wah, iya juga ya … menarik!”
Ada yang:
“Kok bisa sih mikir kayak gitu?!”
Ada juga yang cuma ketawa kecut:
“Hmm … mungkin kalau kamu ngerti konteksnya …”
Faktanya, cara seseorang menyanggah itu kayak jendela ke jiwanya.
Bukan soal dia “salah” atau “benar”, tapi apa yang dia lindungi, takuti, atau hargai.
Karena saat orang nggak setuju, topeng sosialnya sering turun, dan kepribadian aslinya muncul.
Nah, biar kamu nggak salah baca niat, salah tindak, atau malah terluka,
ini 9 cara membaca kepribadian lewat gaya menyanggahnya, plus cara terbaik meresponsnya:
1. Langsung Nyeletuk Tanpa Mikir? → Ego Lagi Insecure
Kalau dia langsung bantah begitu kamu selesai ngomong,
bukan karena dia jago debat,
tapi dia takut dianggap salah.
Biasanya, ini tanda ego rapuh:
- Cepat defensif
- Langsung bawa-bawa diri (“Aku kan udah bilang …”)
- Susah terima masukan
Cara merespons:
Mulai dengan apresiasi,
“Aku lihat kamu udah usaha banget. Boleh aku tawarin cara lain?”
Ini menurunkan “alarm ancaman” di otaknya.
2. Bantah Pakai Data & Struktur? → Otaknya Teratur, Bukan Emosional
Dia nggak marah.
Dia cuma bilang:
“Menarik, tapi menurut data terbaru, hasilnya beda …”
Ini tipe pemikir sistematis.
Dia nggak niat menyerang, dia mau diskusi sehat.
Cara merespons:
Lawan dengan logika, bukan perasaan.
Bawa fakta, buka ruang kolaborasi,
“Kalau gitu, kita bisa bandingkan dua datanya, mana yang lebih relevan sama konteks kita?”
3. Sindir Pakai Kalimat Manis? → Takut Konflik, Tapi Ingin Menang
Dia nggak bilang “salah”.
Tapi bilang:
“Wah, cerdas banget idemu, sayang nggak realistis.”
Ini pasif-agresif:
- Takut ribut langsung
- Tapi nggak rela kalah
- Sering pakai sarkasme halus
Cara merespons:
Jangan ikut main sindir.
Balik ke substansi,
“Mungkin maksudku kurang jelas. Aku mau bahas solusinya, bukan idenya yang sempurna.”
4. Bantah Pakai Humor? → Dia Jago Baca Suasana
Dia ketawa, lalu bilang:
“Kalau logika kamu dipakai, kita semua udah jadi robot!”
Ini tanda kecerdasan emosional tinggi:
- Bisa redam tensi
- Tapi tetap pegang pendirian
- Nggak mau suasana rusak
Cara merespons:
Ikuti gayanya, tapi jangan lupa isi,
“Haha, bener juga! Tapi serius nih, gimana kalau kita coba versi yang lebih manusiawi?”
5. Nggak Nada Tinggi, Tapi Tetap Tegas? → Dewasa Secara Emosional
Dia bicara pelan, mata tenang, tapi jelas:
“Kita mungkin punya definisi beda soal ‘efisien’.”
Ini orang yang sudah ngatur emosinya:
- Nggak butuh teriak buat didengar
- Fokus pada pemahaman, bukan menang
- Bisa terima perbedaan
Cara merespons:
Hargai dengan kedewasaan juga,
“Iya, bagus banget kamu angkat itu. Aku penasaran, menurutmu definisinya gimana?”
6. Diam Dulu, Baru Ngomong? → Dia Orang Reflektif
Dia nggak langsung nyambung.
Tapi 2 menit kemudian:
“Tadi kamu bilang X … aku mikir, mungkin kita bisa lihat dari sisi Y.”
Ini tipe pemikir mendalam:
- Nggak suka reaktif
- Ingin benar-benar paham dulu
- Orientasinya bukan “benar”, tapi “mengerti”
Cara merespons:
Kasih ruang. Jangan desak.
Dan hargai prosesnya,
“Aku suka cara kamu mikir, nggak buru-buru, tapi nempel.”
7. Bantah Sambil Potong Pembicaraan? → Ingin Kontrol, Bukan Diskusi
Dia nggak biarkan kamu selesai.
Langsung nyela:
“Nggak, itu salah! Dengar dulu…”
Ini bukan soal logika, tapi kebutuhan untuk mendominasi.
Dia merasa hanya dia yang layak bicara.
Cara merespons:
Tegas tapi tenang,
“Aku hampir selesai, boleh aku kasih konteks dulu biar jelas?”
Kalau terus begitu, batasi interaksi. Ini soal batasan, bukan komunikasi.
8. Bantah dengan Cerita Pribadi? → Dia Butuh Dihargai Dulu Sebelum Buka Pikiran
Kamu bilang soal kerja tim,
dia malah cerita:
“Dulu aku pernah di tim begini, dan itu hancur banget …”
Dia nggak nolak idemu,
dia mau kamu tahu dia pernah terluka.
Cara merespons:
Validasi dulu perasaannya,
“Wah, pasti berat ya waktu itu. Aku nggak mau kita ulang kesalahan yang sama, makanya aku usul ini.”
Dia butuh rasa aman, bukan argumen.
9. Bantah dengan Pertanyaan Reflektif? → Dia Mau Kamu Sadar Sendiri
Dia nggak bilang “salah”.
Tapi tanya:
“Pernah kepikiran nggak, kalau mungkin ini ada sisi lain?”
Ini tipe pemandu, bukan penentang.
Dia nggak mau menang, dia mau kamu tumbuh.
Cara merespons:
Terima dengan keterbukaan,
“Pertanyaan bagus. Aku belum kepikiran kayak gitu, cerita dong!”
Karena dia bukan musuh, dia mitra berpikir.
Orang nggak menunjukkan siapa dirinya saat setuju sama kamu, tapi saat dia berani nggak setuju, dengan caranya sendiri.
Jadi, lain kali ada yang nolak idemu …
jangan buru-buru kesel.
Amati dulu: dia lagi melindungi apa?
Karena di balik setiap sanggahan,
ada cerita, luka, nilai, atau kebijaksanaan yang menunggu kamu pahami.
Semoga membantumu nggak cuma baca orang, tapi juga baca hubungan,
sehingga kamu bisa berkomunikasi dengan lebih bijak, bukan hanya lebih pintar
Komentar
Woww,,, Artikel ini sangat menarik, karena ternyata ada berbagai type orang yang muncul ketika sedang berargument dan sering kali kita menemukan sanggahan tertentu. entah itu dalam pekerjaan atau sosial.
Sekarang saya tahu bagaimana dalam Merespon seseorang dalam berargument baik dalam pekerjaan maupun sosial.
Terimakasih Pak Mugi
Form Komentar