9 Negosiasi Buruk dimulai dari Kamu Ingin Terlihat Baik

Mopintar
Share Link

ID: 237
Kategori:
Tanggal: 2025-12-16
Dibuat oleh: Administrator MOPINTAR
Jenis Posting : Artikel
Penulis : Mugi Subagyo


“Aku Cuma Mau Baik, Kok Malah Dikira Lemah?”
Pernah nggak sih …
kamu setuju sama sesuatu padahal hati kecil bilang “jangan”,
cuma karena takut dianggap sulit, egois, atau nggak “team player”?

Terus pas negosiasi selesai…
kamu ngerasa lega karena suasana adem,
tapi dalam hati:

“Kenapa aku kayak kalah, ya?”

Faktanya, negosiasi sering gagal bukan karena lawannya jago, tapi karena kamu terlalu ingin terlihat baik.

Dan parahnya …
orang justru nggak menghargaimu karena itu.
Mereka malah baca: “Dia nggak punya batas. Bisa dimanfaatin.”

Berikut 9 akibat nyata yang muncul saat kamu mengorbankan kepentinganmu demi jadi “orang baik” plus cara keluar dari jebakan itu:

1. Kamu Jadi Gampang Nyerah pada Standarmu

  • Karena takut dianggap “mahal” atau “rewel”,
kamu turunin harga, waktu, atau kualitas kerja
padahal itu harga dirimu.

Ingat: Menjaga standar bukan sombong, itu bentuk penghargaan pada nilai yang kamu bawa.

2. Orang Lain Baca Ini sebagai “Celah untuk Nekan”

Kalau kamu terlalu cepat setuju,
otak orang langsung bikin catatan:

“Dia nggak bakal protes. Bisa minta lebih.”

Solusi: Tunjukkan kamu fleksibel, tapi punya prinsip.
Contoh: “Aku bisa bantu, asal deadline-nya masuk akal.”

3. Kata “Tidak” Jadi Misterius dan Menakutkan

Kamu takut bilang “nggak” karena khawatir:
“Nanti dia nggak suka sama aku.”

Padahal, kata “tidak” adalah fondasi negosiasi sehat.
Dan orang justru lebih respek sama yang berani bilang:

“Aku nggak bisa, tapi ini alternatifnya.”

4. Kamu Kehilangan Fokus pada Strategi, Sibuk Jaga Image

Saat negosiasi, otakmu malah mikir:
“Aku kelihatan ramah nggak, ya?”
“Dia marah nggak, ya?”

Bukan:
“Apa tujuanku?”
“Apa taktik dia?”

Latihan: Sebelum negosiasi, 
tulis:
“Aku di sini untuk X. Aku nggak mau Y.”
Fokus pada itu … bukan pada senyummu.

5. Gampang Terseret Drama Emosional

Lawan bilang:
“Kasihan dong, aku udah susah banget…”
“Kamu egois kalau nggak mau bantu.”

Dan kamu langsung luluh, 
padahal itu taktik manipulasi emosi.

Pertahanan:
“Aku ngerti kamu susah. Tapi aku juga punya batas.”
Empati tidak sama dengan penyerahan diri.

6. Kamu Terlihat Nggak Yakin pada Diri Sendiri

Kalau selalu mengalah,
orang baca:
“Dia nggak percaya sama nilai yang dia bawa.”

Dan kalau kamu nggak percaya …
mana mungkin orang lain percaya?

Latih: Bicara dengan kalimat tegas, bukan pertanyaan.
Ganti: “Mungkin ini terlalu mahal, ya?”
Jadi: “Ini harga yang sesuai dengan nilai yang aku berikan.”

7. Kamu Mengorbankan Tujuan Demi Pujian Sementara

Hasil negosiasi:
Kamu dapat “Terima kasih, kamu baik banget!”
Tapi kehilangan waktu, uang, atau energi besar.

Tanya diri:
“Aku mau dihargai karena baik ... atau karena berharga?”

8. Otoritasmu Perlahan Terkikis, Bahkan di Mata Dirimu Sendiri

Setiap kali kamu menyerah demi “damai”,
kamu kirim pesan ke otakmu:
“Aku nggak layak diperjuangkan.”

Lama-lama, kamu jadi ragu pada setiap keputusan,
bahkan yang jelas benar.

Bangun ulang: Mulai dari hal kecil.
Bisa bilang “nggak” ke tugas tambahan?
Itu latihan untuk negosiasi besar nanti.

9. Kamu Jadi Sering Diulang Dimanfaatin, Karena “Aman”

Orang tahu:
“Kalau minta ke dia, pasti di-iyain.”

Jadi mereka ulang terus, karena kamu jadi sumber energi gratis.

Hentikan siklusnya:
“Aku bantu ini sekali. Tapi ke depan, tolong rencanain lebih baik.”

Batas yang jelas = hubungan yang sehat.

Ingin jadi orang baik itu mulia.
Tapi jangan jadi “orang baik” yang justru jadi kesempatan buat orang lain merugikanmu.

Karena orang yang benar-benar dihargai itu bukan yang paling sering mengalah, 
tapi yang paling konsisten menjaga nilai dirinya, dengan cara yang tetap manusiawi.

Jadi, lain kali mau bilang “iya”…
tanya dulu:
“Aku setuju karena ini adil ... atau cuma karena takut dianggap jahat?”

Kalau jawabannya jujur,
kamu baru benar-benar bebas bernegosiasi.

Semoga membantumu nggak cuma disukai, tapi juga dihargai.




Form Komentar

Address

Head Office: Jln. Taman Kencana III Blok P3 No. 11A, Jaka Setia, Bekasi

Marketing Office : Jln. Arabika III Blok AB2 No.1 Pondok Kopi, Jakarta Timur.

Phone & Email

Email: info@mopintar.co.id

Phone: 081290593242

Copyright © 2020 MOPINTAR. All Rights Reserved