9 Teknik Bertanya yang Bikin Logika Lemah Langsung Ambruk

Mopintar
Share Link

ID: 252
Kategori:
Tanggal: 2025-12-21
Dibuat oleh: Administrator MOPINTAR
Jenis Posting : Artikel
Penulis : Mugi Subagyo


(Tanpa perlu berteriak—cukup dengan satu kalimat yang tepat)

Pernah nggak ketemu orang yang bicara panjang, suara keras, dan yakin banget dia bener, tapi pas Kamu denger baik-baik, isinya kosong melompong?

Faktanya: banyak orang merasa "menang" bukan karena argumennya kuat, tapi karena belum ketemu lawan yang jago nanya.

Penelitian dari Harvard Business Review bahkan menunjukkan: orang yang pandai bertanya justru dianggap lebih cerdas daripada yang cuma jago jawab.

Karena pertanyaan yang tajam bukan cuma buat klarifikasi, tapi cermin buat logika yang sedang berusaha kabur.

Dan kabar baiknya: kamu bisa belajar teknik ini.
Berikut 9 teknik bertanya yang bisa Kamu pakai buat menguji, membongkar, atau bahkan menyelamatkan percakapan dari jebakan logika lemah, baik di rapat kantor, diskusi keluarga, atau debat di kolom komentar.

Klasifikasi: Tiga Lapis Pertanyaan yang Menghancurkan Logika Lemah
Sebelum masuk daftar, kita kelompokkan dulu teknik-teknik ini ke dalam tiga lapis inti:
  • Menguji Fondasi, Apakah argumennya punya dasar yang jelas?
  • Menguji Konsistensi, Apakah logikanya nyambung dari awal sampai akhir?
  • Menguji Niat & Realitas, Apakah ini benar-benar soal kebenaran… atau ada motif lain?
1. Tanya Definisi: “Maksud Lo Apa Sih, Sebenernya?”

Banyak argumen runtuh di kata-kata besar tapi kosong: “keadilan”, “kebebasan”, “generasi sekarang malas”, dll.

Pertanyaan sederhana:
“Apa yang lo maksud dengan ___?”

Contoh:
“Lo bilang ‘demokrasi harus ditegakkan’, tapi demokrasi versi apa? Langsung? Perwakilan? Atau cuma demokrasi pas Kamu menang?”

Tanpa definisi, argumen cuma jargon yang berkeliaran.

2. Tanya Konsistensi: “Kok Kemarin Lo Bilang Beda?”

Orang sering gak sadar bertentangan sama diri sendiri.

Tanya dengan santai:
“Tapi tadi lo bilang X, sekarang jadi Y. Mana yang bener?”

Contoh:
“Lo minta negara ngasih subsidi, tapi ngelarang pajak naik. Dari mana dananya?”

Pertanyaan ini nggak menyerang, tapi memaksa logika kembali utuh.

3. Tanya Bukti: “Buktinya Apa?”

Klaim tanpa bukti = opini yang lagi jalan-jalan.

Jangan ragu tanya:
“Ada data/nggak yang ngedukung itu?”
“Lo dapet info itu dari mana?”

Banyak orang yang langsung “buffering” pas ditanya ini.

4. Tanya Konsekuensi: “Kalau Diikuti, Bakal Jadi Apa?”

Ide yang indah di atas kertas sering ngawur di dunia nyata.

Tanya:
“Kalau semua orang nurutin lo, akibatnya gimana?”

Contoh:
“Lo bilang ‘semua kerja remote aja’, terus petani, nelayan, tukang listrik kerja dari mana? Zoom?”

Pertanyaan ini ngajak mikir jangka panjang, bukan cuma emosi sesaat.

5. Tanya Sumber: “Siapa yang Bilang Gitu?”

“Katanya…” adalah kalimat paling berbahaya di dunia.

Tanya:
“Bisa kasih sumber jelas? Link, nama, atau data?”

Kalau jawabannya: “Ya gue denger aja sih…” … udah, Kamu menang.

6. Tanya Alternatif: “Apa Nggak Ada Cara Lain?”

Logika lemah sering ngeyel di satu jalan, padahal dunia ini kompleks.

Tanya:
“Apa bener ini satu-satunya jalan? Apa udah dipertimbangkan opsi lain?”

Contoh:
“Lo bilang ‘cuma naikin upah solusinya’, udah coba liat soal efisiensi, pelatihan, atau perbaikan sistem?”

Pertanyaan ini membuka pikiran, bukan menutup debat.

7. Tanya Intensi: “Kenapa Lo Nge-push Ini?”

Kadang, argumen cuma topeng buat kepentingan lain.

Tanya dengan empati:
“Apa yang bikin lo sangat yakin sama ini?”
“Apa yang lo harapkan kalau ide ini diterima?”

Banyak orang langsung terbuka, atau malah mundur.

8. Tanya Skala: “Apakah Ini Berlaku di Semua Situasi?”

Logika lemah suka generalisasi ekstrem: “Semua orang …”, “Gak pernah …”, “Pasti gagal …”

Tanya:
“Apa bener semua? Apa ada pengecualian?”
“Kalau dalam konteks beda, masih berlaku?”

Contoh:
“Lo bilang ‘semua politisi korup’, apa bener nggak ada satu pun yang jujur? Pernah cek data KPK?”

Pertanyaan ini melawan bias kognitif dengan logika seimbang.

9. Tanya Dampak Emosional: “Apa yang Lo Rasain Pas Ngomong Ini?”

Kadang, argumen bukan soal logika, tapi emosi yang disembunyikan.

Tanya perlahan:
“Lo kayaknya sangat terbebani sama ini. Ada pengalaman pribadi?”

Bukan buat menyerang, tapi mengalihkan dari debat jadi dialog.
Karena sering kali, logika lemah muncul bukan karena bodoh, tapi karena sakit yang belum selesai.

Dan justru di sinilah kekuatan sejati berpikir kritis: bukan buat menang, tapi buat memahami, dan membantu.

Jago Bertanya = Jago Hidup
Bertanya bukan tanda ketidaktahuan.
Justru, orang yang paling berani adalah yang berani bilang:
“Aku perlu tanya dulu, biar kita sama-sama nggak salah paham.”

Dan dengan 9 teknik ini, Kamu nggak cuma bisa menghancurkan logika lemah, tapi juga membangun percakapan yang lebih jujur, dalam, dan manusiawi.

Jadi, lain kali ketemu argumen ngawur …
Jangan buru-buru debat.
Cukup tanya, dengan tenang, cerdas, dan penuh rasa hormat.

Karena sering kali, satu pertanyaan yang tepat
lebih berdaya
daripada seribu pernyataan yang gegabah.

Kalau Kamu sering pake teknik nomor 3 atau 7, berarti Kamu udah punya insting berpikir kritis yang tajam. Terus asah!

Dan kalau Kamu kenal orang yang “selalu bener” tapi argumennya rapuh… kirim artikel ini pelan-pelan.




Form Komentar

Address

Head Office: Jln. Taman Kencana III Blok P3 No. 11A, Jaka Setia, Bekasi

Marketing Office : Jln. Arabika III Blok AB2 No.1 Pondok Kopi, Jakarta Timur.

Phone & Email

Email: info@mopintar.co.id

Phone: 081290593242

Copyright © 2020 MOPINTAR. All Rights Reserved