9 Senjata Filsuf Buat Bikin Logika Orang ‘Meleleh’ dengan Elegan

Mopintar
Share Link

ID: 254
Kategori:
Tanggal: 2025-12-21
Dibuat oleh: Administrator MOPINTAR
Jenis Posting : Artikel
Penulis : Mugi Subagyo


(Tanpa perlu jadi Socrates—cukup jadi pendengar yang penasaran)

Pernah nggak, Kamu tanya sesuatu yang simpel aja, tapi tiba-tiba lawan bicara Kamu diam, melongo, lalu bilang: “Waduh… gue sendiri gak tahu.”?

Itu bukan kebetulan.
Itu kekuatan pertanyaan yang tepat.

Di dunia yang serba cepat, di mana orang lebih suka nyinyir, debat, atau langsung simpulkan … pertanyaan justru jadi bentuk pemberontakan terhadap kemalasan berpikir.

Para filsuf nggak sibuk kasih jawaban. Mereka sibuk ngebuat orang mikir.
Dan kabar baiknya: Kamu juga bisa!

Berikut 9 teknik bertanya ala filsuf yang bisa Kamu pakai di obrolan warung kopi, rapat kantor, bahkan DM medsos, bukan buat menang, tapi buat bikin orang sadar: “Ternyata gue belum mikir sejauh ini.”

Klasifikasi: Tiga Tujuan Pertanyaan Filsuf
Sebelum masuk daftar, ini cara kita kelompokkan:
  • Menguji Makna, Apa yang sebenernya Kamu maksud?
  • Menguji Logika, Apakah itu masuk akal dari ujung ke ujung?
  • Menguji Diri Sendiri, Apakah ini benar-benar keyakinan Kamu… atau cuma echo chamber?
1. Tanya Definisi, Bukan Langsung Nilai

“Lo bilang ‘ini gak adil’—tapi menurut lo, apa sih yang bikin sesuatu jadi ‘adil’?”

Orang sering pake kata besar kayak keadilan, kebebasan, kesuksesan, tapi kalau diminta definisiin, mereka blank.
Karena sebenernya, mereka ngikutin tren, bukan prinsip.

Pertanyaan ini nggak ngejatuhin, tapi ngajak balik ke dasar.
(Sumber: Simon Blackburn – Think)

2. Lempar Balik dengan Situasi Serupa yang Bikin Geleng-Geleng

“Kalau semua hukum harus ditaati, berarti zaman apartheid dulu juga ‘benar’, ya?”

Ini namanya tes konsistensi moral.
Bukan buat jebak, tapi buat lihat apakah prinsipnya tahan uji di konteks lain.

Banyak orang langsung sadar: “Wah, gue ternyata nggak konsisten.”
(Sumber: Ward Farnsworth – The Socratic Method)

3. Pakai Analogi yang Lucu Tapi Ngena

“Kalau biar damai semua harus setuju, terus beda pendapat dilarang, itu kayak bilang: ‘Biarkan rumah adem, tapi matiin AC-nya.’”

Analogi bikin logika absurd jadi kelihatan jelas, tanpa Kamu harus marah atau debat.
Dan yang paling ampuh? Orang malah ketawa … terus mikir.
(Sumber: Jostein Gaarder – Sophie’s World)

4. Gali Asumsi Tersembunyi di Balik Kalimatnya

“Lo bilang ‘orang sukses itu kerja keras’, berarti yang belum sukses itu malas, ya?”

Pertanyaan ini nggak nyerang, tapi ngebongkar bias yang selama ini dianggap “wajar”.

Karena sering kali, akar argumen bukan di logika, tapi di asumsi yang nggak disadari.

5. Pakai Pertanyaan Reflektif yang Nyentuh Identitas

“Lo percaya ini karena lo mikir sendiri … atau karena semua orang di sekitar lo juga bilang gitu?”

Ini bukan pertanyaan biasa. Ini cermin buat jiwa.
Dan sering kali, di sinilah pencerahan dimulai: saat orang sadar, “Ternyata gue cuma ikut-ikutan.”

6. Diam Setelah Bertanya, Biarkan Keheningan Bekerja

Jangan buru-buru isi keheningan.
Diam itu ruang buat otak orang ‘nge-buffer’, dan sering kali, di sanalah jawaban jujur muncul.

Socrates jarang ngomong banyak. Tapi diamnya bikin orang jatuh ke dalam pikirannya sendiri.

7. Bawa Logikanya ke Ujung Ekstrem (Reductio ad Absurdum)

“Kalau lo bilang ‘jangan pernah nyakitin perasaan orang’, terus lo beda keyakinan sama dia, apa lo harus ganti agama biar dia nggak tersinggung?”

Kalau logikanya pecah di ujung ekstrem, berarti ada celah di dasarnya.
Dan ini cara elegan buat bongkar dogma tanpa marah.
(Sumber: Simon Blackburn)

8. Tanya “Apa yang Bikin Lo Yakin?” (Bukan “Kenapa Lo Yakin?”)

“Apa bukti atau pengalaman yang bikin lo yakin banget sama ini?”

“Kenapa” sering bikin orang cari alasan belakang.
Tapi “apa yang bikin yakin” bikin mereka refleksi sumber keyakinannya: data? emosi? pengaruh?

Ini beda tipis, tapi dampaknya besar.

9. Tanya “Apa yang Lo Takutkan Kalau Ini Salah?”

“Kalau ternyata ini nggak benar … apa yang paling lo takutkan akan terjadi?”

Pertanyaan ini nyentuh luka, bukan logika.
Karena sering kali, orang ngeyel bukan karena yakin, tapi karena takut kehilangan sesuatu: harga diri, komunitas, rasa aman.

Dan justru di sinilah dialog sejati dimulai: bukan debat, tapi empati yang dalam.

Bertanya Itu Bentuk Cinta yang Cerdas
Filsuf nggak bertanya buat nunjukin siapa paling pinter.
Mereka bertanya karena peduli: “Aku pengin lo sadar, bukan cuma percaya.”

Dan Kamu juga bisa jadi versi itu:
tenang, penasaran, dan penuh rasa hormat, tapi tetap berani bikin orang mikir dua kali.

Jadi, lain kali ketemu orang yang yakin banget …
Jangan debat.
Cukup tanya, dengan lembut, cerdas, dan penuh niat baik.

Karena kadang, satu pertanyaan yang tulus
lebih mengubah hidup
daripada seribu pernyataan yang penuh amarah.

Coba teknik nomor 5 atau 9 hari ini di obrolan yang beneran. 
Lalu cerita: apa yang terjadi?
Dan kalau lo kenal orang yang “sok tahu” tapi jarang mikir … kirim artikel ini pelan-pelan.




Form Komentar

Address

Head Office: Jln. Taman Kencana III Blok P3 No. 11A, Jaka Setia, Bekasi

Marketing Office : Jln. Arabika III Blok AB2 No.1 Pondok Kopi, Jakarta Timur.

Phone & Email

Email: info@mopintar.co.id

Phone: 081290593242

Copyright © 2020 MOPINTAR. All Rights Reserved