9 Kekeliruan Sistem Pendidikan dan Kurikulum di Indonesia

Mopintar
Share Link

ID: 259
Kategori:
Tanggal: 2025-12-24
Dibuat oleh: Administrator MOPINTAR
Jenis Posting : Artikel
Penulis : Mugi Subagyo


(Yang bikin anak pinter di kertas, tapi goyah di kehidupan nyata)

Pernah lihat anak yang rapornya selalu 90–100, tapi pas dikasih keputusan kecil aja, langsung panik?
Atau anak yang takut banget salah jawab, padahal salah itu justru jalan terbaik buat belajar?

Sayangnya, sistem pendidikan kita nggak dirancang buat mencetak manusia utuh, tapi manusia yang “patuh, cepat, dan benar”.
Dan di balik semua ranking, ujian nasional, dan lomba-lomba itu, ada kekeliruan mendasar yang terus diulang … generasi demi generasi.

Berikut 9 kekeliruan sistem pendidikan di Indonesia yang perlu kita akui, biar kita bisa mulai memperbaikinya dari rumah, dari kelas, atau bahkan dari cara kita ngomong ke anak kita sendiri.

Klasifikasi: Tiga Akar Masalah Pendidikan Kita
Kita kelompokkan jadi tiga lapis:
  • Filosofi yang Keliru, apa tujuan pendidikan sebenarnya?
  • Struktur yang Kaku, cara mengajar, menilai, dan mengatur
  • Dampak Psikologis, bagaimana ini bentuk mental anak jangka panjang
1. Sekolah Terjebak dalam Budaya Angka

Nilai = prestasi.
Ranking = harga diri.

Padahal, angka nggak pernah bisa ukur rasa ingin tahu, ketekunan, atau keberanian anak.

Anak yang nilainya 60 dianggap “gagal”, padahal mungkin dia baru aja kehilangan orang tua, atau cuma butuh cara belajar yang beda.

Tapi sistem kita nggak peduli konteks, yang penting angka naik.

Akibatnya? Anak belajar buat nggak salah, bukan buat ngerti.

2. Kurikulum Lebih Menekankan Hafalan daripada Mentalitas

  • Rumus matematika? Hafal.
  • Tanggal kemerdekaan? Hafal.
Tapi cara ngatur emosi pas gagal? Nggak diajarin.

Padahal, di dunia nyata, nggak ada soal pilihan ganda.

Masalah datang tanpa petunjuk, dan solusinya butuh ketenangan, empati, dan kreativitas, bukan hafalan.

3. Rasa Takut Salah Membunuh Kreativitas

Sejak SD, salah = merah di buku = hukuman = malu.
Akhirnya, anak belajar: “Lebih baik diam daripada salah.”

Padahal, ilmu pengetahuan lahir dari kegagalan berulang.
Thomas Edison gagal 1.000 kali, tapi kita ngajarin anak: “Gagal sekali aja, Kamu udah ketinggalan kelas.”

4. Dunia Nyata Butuh Mental Tahan Banting, Bukan Cuma Otak Cerdas

Di luar sekolah, Kamu bakal:
  • Ditolak kerja
  • Gagal jualan
  • Dihianati teman
  • Bangkrut
  • Patah hati
Semua itu nggak ada di kurikulum.

Tapi anak-anak kita dikasih rapor sempurna, lalu dilempar ke dunia yang kejam, tanpa pelindung mental.

5. Pendidikan Jadi Alat Menjinakkan, Bukan Membebaskan

Paulo Freire bilang:
“Pendidikan sejati membebaskan manusia dari ketidaktahuan dan ketakutan.”

Tapi sistem kita?
  • “Jangan banyak tanya.”
  • “Ikuti aturan.”
  • “Nilai bagus = Kamu aman.”
Ini bukan Pendidikan, ini pelatihan ketaatan.
Dan anak yang terlalu taat … jadi gampang dikendalikan, tapi susah berpikir sendiri.

6. Guru Nggak Dilatih Jadi Fasilitator, Tapi Jadi “Pengawas”

Banyak guru hebat yang terjebak sistem:
Harus kejar target kurikulum, isi nilai, urus administrasi, 
bukan dengarkan anak, bangkitin semangat, atau dampingi saat gagal.

Akibatnya, kelas jadi pabrik nilai, bukan taman eksplorasi.

7. Nggak Ada Ruang untuk “Belajar dari Kegagalan” di Sekolah

Coba bayangin:
Ada mata pelajaran “Manajemen Kegagalan”,
di mana anak boleh gagal proyek, lalu analisis:

“Apa yang salah? Apa yang bisa diperbaiki? Apa yang dipelajari?”

Tapi nggak ada.
Yang ada: sekali salah, langsung nilai turun, tanpa proses perbaikan.

Padahal, gagal itu data, bukan vonis.

8. Sekolah Abai pada Kecerdasan Emosional & Sosial

Anak diajar trigonometri, tapi nggak diajar cara ngomong pas marah.
Diajar sejarah perang, tapi nggak diajar cara minta maaf yang tulus.

Akibatnya, kita punya generasi pintar yang kesepian, kompeten tapi sulit kolaborasi, juara kelas tapi nggak bisa jaga hubungan.

9. Kurikulum Nggak Relevan dengan Tantangan Zaman

Anak diajar cara hitung bunga bank manual,
tapi nggak diajar literasi digital, keamanan data, atau cara bedain berita hoaks.

Kurikulum kita masih terjebak di abad ke-20,
padahal anak-anak hidup di dunia AI, krisis iklim, dan perubahan cepat.

Pendidikan Bukan Soal Mencetak “Sempurna”, Tapi Melahirkan “Manusia”

Sekolah seharusnya bukan tempat anak takut salah.
Tapi tempat anak berani mencoba, dan kalau jatuh, ada tangan yang menolong, bukan jari yang menunjuk.

Karena pemenang di kehidupan nyata bukan yang nilainya paling tinggi,
tapi yang paling cepat bangkit setelah jatuh.

Dan itu … nggak bisa dinilai pakai angka.

Kalau Kamu guru, orang tua, atau mantan siswa …
coba renungkan: mana dari 9 kekeliruan ini yang pernah Kamu alami?
Lalu, apa satu hal kecil yang bisa Kamu ubah hari ini, untuk anak, murid, atau diri Kamu sendiri?




Form Komentar

Address

Head Office: Jln. Taman Kencana III Blok P3 No. 11A, Jaka Setia, Bekasi

Marketing Office : Jln. Arabika III Blok AB2 No.1 Pondok Kopi, Jakarta Timur.

Phone & Email

Email: info@mopintar.co.id

Phone: 081290593242

Copyright © 2020 MOPINTAR. All Rights Reserved