Kenapa HR Sering Gagal Bukan Karena Orangnya, Tapi Karena Cara Mengolahnya
Pernah minum kopi mahal…
tapi rasanya meh?
salah satu admin HR CAFE pernah...(sebutnya saja namanya mawar)..
Biji kopinya single origin.
Harganya bikin dompet refleks istighfar.
Tapi diseduh pakai air terlalu panas, grind size salah, metode nggak cocok.
Hasilnya?
Kopi bagus, rasa zonk.
Dan anehnya, di dunia HR…
hal seperti ini kejadian tiap hari.
HR = Dapur Talent
Mari kita jujur sebentar.
Banyak organisasi dengan bangga bilang:
“Kita rekrut orang-orang terbaik.”
Tapi lupa satu hal penting: *bahan baku berkualitas tidak otomatis jadi sajian nikmat.*
Dalam dunia kopi:
- Arabica ga cocok untuk semua metode
- Espresso ga pas diseduh ala tubruk
- Cold brew ga banget pakai air panas
Dalam dunia HR jg gt:
- High potential ga cocok di semua posisi
- Lulusan top ga otomatis siap kerja
- Experienced hire ga langsung produktif tanpa adaptasi
jadi beti (beda tipis) bukan...?!
Bukaaannn...!!!!
Data Bicara (Bukan Perasaan Barista HR)
Beberapa temuan riset global umumnya menunjukkan (jgn ditnya sumbernya mana...pokoknya buanyak dah):
- 80% turnover awal (0–12 bulan) terjadi bukan karena kandidat buruk, tapi karena job mismatch & onboarding yang lemah
- Perusahaan dengan job-person fit tinggi mencatat produktivitas hingga 30% lebih baik
- Program pelatihan yang tidak kontekstual membuat lebih dari 60% skill hasil training tidak terpakai
Artinya?
Masalahnya jarang di kopinya..tapi,
Masalahnya di cara nyeduhnya.
Rekrutmen Tanpa Presisi = Espresso Diseduh Pakai Air Galon
Sering kejadian :
- Posisi butuh problem solver --> direkrut orang patuh
- Posisi butuh stabilitas --> direkrut orang suka eksperimen
- Posisi lapangan --> dites teori
- Posisi strategis --> diukur cuma dari IPK & pengalaman lama
Hasilnya?
Karyawan “bagus” tapi frustasi
Trus atasan bilang: “Orangnya pinter, tapi kok nggak jalan?”
HR nya bingung: “Padahal CV-nya cakep.”
ada yang pernah gt ga..?
Karena kopi yang salah seduh, rasanya pasti salah
Pelatihan Tanpa Tujuan = Latte Art di Gelas Plastik
Training sering jadi agenda ritual:
- Judul keren
- Slide tebal
- Foto ramai
- Sertifikat dibagikan
Tapi setelah itu?
- Skill tidak dipakai
- Perilaku tidak berubah
- Kinerja tetap segitu-gitu saja
Pelatihan yang efektif itu:
- Tepat konteks
- Tepat waktu
- Tepat kebutuhan posisi
- Tepat gaya belajar
Bukan sekadar “yang penting ada training.
Sedikit Provokasi (boleh ya..)
Kalau hasil talent tidak maksimal,
jangan buru-buru menyalahkan orangnya.
Coba tanya (pada yang rumput yg berjoged) :
- Apakah kita menempatkan di posisi yang tepat?
- Apakah ekspektasi jelas sejak awal?
- Apakah pelatihannya relevan dengan pekerjaan nyata?
- Apakah atasan tahu cara “mengolah” timnya?
Karena:
Bahan baku premium + dapur berantakan = rasa mengecewakan
HR bukan sekadar urusan siapa yang direkrut,
tapi bagaimana ia diolah, ditempatkan, dan dikembangkan.
Seperti kopi:
Salah seduh --> pahit
Tepat seduh --> nikmat
Konsisten --> bikin nagih
Dan organisasi yang hebat… bukan yang punya bahan baku terbaik, tapi yang paling paham cara mengolah manusia.
Ngopi di HR CAFE bukan sekedar Ngopi Talent, juga Bukan Sekadar Ngopi CV...tp ikutan ngolah n ngeraciknya..
Coretan HR ala coaCHA
Humanizing HR, Inspiring People
Form Komentar